Recent Posts

Sabtu, 14 November 2009

kisah cinta CHAIRIL ANWAR dgn NONA AMBON

Beta Pattiradjawane
jang didjaga datu-datu
tjuma satu

Begitulah bait pertama puisi karangan pujangga angkatan 45 Chairil Anwar, berjudul Tjerita Buat Dien Tamaela. Siapa Dien dan mengapa Pattiradjawane ? Bagaimana hubungan Chairil Anwar dan Dien ?

LANTARAN penyair Chairil Anwar, nama Dien Tamaela begitu termasyur. Puisi Chairil berjudul Cerita Buat Dien Tamaela, sangat populer. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di manca negara. Sebab puisi itu ternyata telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa seperti Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Spanyol, Latin bahkan Rusia.

Meskipun begitu populer, Dien Tamaela ternyata menjadi sebuah misteri. Banyak orang tidak tahu, siapa Dien Tamaela sebenarnya. Ada yang menyangka Dien seorang pria Ambon, seorang penyair, seorang pelukis, kritikus sastra. Ada yang menyebutnya sahabat Chairil di Negeri Belanda. Bahkan, ada juga yang menggosipkan sebagai istri gelap Chairil.

“Siapa itu Dien Tamaela, kita tidak kenal jadi kita tidak bisa menghayati puisi Chairil Anwar secara baik,” ujar seorang guru Sastra Indonesia pada forum dalam bulan bahasa 2008 di Kampus FKIP Universitas Pattimura.

Puisi Cerita Buat Dien Tamaela yang sungguh mistis, juga menjadi sebuah misteri. Chairil seperti punya pengalaman magis berada di pulau-pulau Maluku. Tapi untuk membuka tabir hubungan Chairil dan Dien, justru mesti dimulai dengan menelusuri puisi ini.

Puisi ini ditulis Chairil tahun 1946. Di bawah judul Cerita Buat Dien Tamaela, Chairil memulainya dengan satu larik yang langsung sangat Maluku, Beta Pattiradjawane. Tercatat, lima kali nama Pattiradjawane muncul dalam puisi sembilan bait itu. Maka pertanyaan berikut, siapa Pattiradjawane ? Mengapa bukan Pattimura atau marga-marga lainnya ?

PUTRI DOKTER TAMAELA
Cerita mengenai siapa Dien Tamaela bisa diurai dengan menelusuri makamnya di Tanah Kusir Jakarta Selatan. Dari sana, bisa tersingkap siapa Dien sebenarnya. Tentu, berjumpa dengan saudara kandungnya atau beberapa kerabatnya, sangatlah membantu.

Dien Tamaela bernama lengkap Leonardine Hendriette Tamaela. Ia lahir di Palembang, 27 Desember 1923 sebagai putri pertama pasangan dr Lodwijk Tamaela dan Mien Jacomina Pattiradjawane. Dien mempunyai seorang adik kandung bernama Lebrin Agustien Tamaela, yang lahir di Malang, 21 Agustus 1926. Sang adik dikenal dengan nama Dee, seorang dokter anak yang masih hidup di Menteng Jakarta Pusat dalam usia 83 tahun.

Dien dan Dee adalah putri dr Lodwijk Tamaela, pria kelahiran Ambon, 4 Maret 1896. Sang dokter meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalulintas di Mojokerto, 27 Juli 1938. Nama sang dokter diabadikan di Ambon sebagai nama ruas jalan dari Tugu Trikora menuju Batugantung.

Ibunda Dien dan Dee yakni Mien Jacomina Pattiradjawane lahir di Ambon, 8 September 1897. Sejak sang suami meninggal tahun 1938, Mien jualah yang mengasuh kedua putrinya. Waktu itu Dien berusia 15 tahun dan Dee baru 12 tahun. Mien hidup di Jakarta dalam usia yang panjang. Ia baru menghembuskan nafas terakhir di Jakarta, 28 Oktober 1996 dalam usia 99 tahun.

PIANIS DAN PENYANYI
Dien Tamaela sempat belajar di MULO Jakarta. Namun sampai kelas dua, ia pindah ke Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak. Nahas sebab pada tahun 1942, Jepang mulai menguasai Jakarta sehingga sekolah-sekolah ditutup. Dien pun putus sekolah. Tapi Dien melamar kerja di kantor pemerintah Jepang. Ia diterima sebagai tenaga administrasi sampai Indonesia merdeka. Setelah Jepang angkat kaki, tentara NICA ada di mana-mana.

Meskipun situasi tidak menentu, namun komunitas Maluku di Jakarta tetap berada dalam tradisi seni. Dien yang pandai bermain piano, secara rutin tampil dalam siaran budaya Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta. Sebagai pianis, mengiringi pemuda-pemuda Ambon bernyanyi. Dee juga masuk dalam kelompok penyanyi. Lagu-lagu dan pantun antara lain ditulis oleh seniman Buce Tahalele.

CHAIRIL MARAH
Tidak diketahui secara pasti kapan dan di mana Dien berkenalan dengan Chairil Anwar. Tapi baik Dien maupun Chairil sama-sama sering bolak-balik Jakarta – Yogyakarta. Di Yogyakarta, Dien tinggal bersama keluarga Tahya-Pattiradjawane, saudara ibundanya yang biasa disapa Tante Putih. Keluarga Tahya-Pattiradjawane mengelola sebuah asrama pelajar dan Dien tinggal di situ jika ke Yogyakarta.

Chairil memang kemudian akrab dan jatuh cinta pada Dien. Tapi cinta setiap kali harus mengurut dada. Sebab ia harus berhadapan dengan dua perempuan bermarga Pattiradjawane yakni Mien di Jakarta dan Tante Putih di Yogyakarta.

Chairil sendiri dikenal sebagai pemuda petualang, tidur di mana saja, jarang mandi, jarang ganti baju, tukang begadang dan selalu kekurangan uang. Dengan penampilannya kumal, hal ini sangat kontras dengan Dien. Tiap kali Chairil bertamu, ia selalu kena semprotan kata-kata dari dua perempuan Pattiradjawane.

Meskipun berkali-kali kena damprat, Chairil selalu saja muncul dengan penampilan dekilnya. Cerita tentang tifa, pala, laut, sampan, pulau, datuk-datuk yang kemudian muncul dalam puisinya, sesungguhnya ekspresi kemarahan Chairil pada perempuan Pattiradjawane yang menjadi penghalang cintanya pada Dien. Chairil menangkap kisah-kisah tentang Maluku dari perempuan-perempuan itu.

Tahun 1947, Dien beberapa kali ke Yogyakarta. Waktu itu, puisi Cerita Buat Dien Tamaela sudah mulai menjadi buah bibir di Yogyakarta dan Jakarta. Chairil juga sering Yoggyakarta. Tapi menurut Dee, kakaknya itu seorang yang tidak banyak bicara sehingga tidak pernah bercerita sejauh mana hubungannya dengan Chairil.

“Dien tidak pernah bercerita tentang Chairil,” kata Dee.

TBC MEMBUNUH
Usianya baru 25 tahun ketika dokter memvonisnya positif terserang penyakit TBC. Pada masa itu, TBC adalah penyakit pembunuh nomor satu karena belum ada obatnya sama sekali. Kesehatannya terus memburuk. Sang ibu membawanya berobat ke rumah sakit yang kini dikenal sebagai RSUP Cipto Mangunkusumo.

Meskipun menjalani perawatan intensif, penyakitnya semakin parah. Dien tidak tertolong lagi sehingga akhirnya menutup mata untuk selamanya pada 8 Agustus 1948. Ia dimakamkan di Petamburan. Sepuluh tahun kemudian dipindahkan ke Pemakaman Tanah Kusir. Gadis hitam manis itu tidur di sana dalam sebuah keabadian puisi yang sangat terkenal, Cerita Buat Dien Tamaela. (Rudi Fofid)

MENCARI JEJAK DIEN TAMAELA

Begitu lama mencari jejak perempuan bernama Dien Tamaela. Bermula dari perkenalan pertama puisi Chairil Anwar, semasa SD tahun 1976 di Bacan, Maluku Utara. Tahun 1985-1999, saya berdomesili di Jalan Dr Tamaela. Nama jalan ini selalu mengingatkan saya pada Dien. Barulah pada media Oktober 2009, saya akhirnya menemukan jejak Dien di Jakarta.

KALAU bukan wartawati World of Maluku Meutia Muskitta, saya tak bakal sampai ke Apartemen Eksekutif di Menteng Jakarta Pusat. Apartemen megah itu dijaga sekuriti dengan sistem pengamanan sangat ketat namun penuh senyum.

Seorang petugas berseragam dengan ramah menyambut Meutia, saya dan penyair dari Ternate Dino Umahuk, pertengahan Oktober lalu. Petugas itu menelepon sejenak, lalu meletakkan gagang telepon. “Silahkan, anda sudah ditunggu,” ujarnya sambil membuka pintu menuju lift.

Apartemen itu berlantai 15 namun kami naik ke lantai lima Blok Palem. Seorang pria setengah baya membukakan pintu. Di ruang tamu yang besar, seorang perempuan tua sedang duduk becakap-cakap dengan dua kerabatnya.

“Ini Tante Dee,” kata Meutia.
“Dan ini Rudi dari Ambon sedangkan satunya lagi Dino dari Ternate. Mereka ingin tahu, siapa itu Dien Tamaela,” ujarnya lagi.

Perempuan tua yang disebut Tante Dee itu meninggalkan kedua kerabatnya. Ia menyalami kami dengan anggun. Kami pun duduk di meja bundar dan mulai bercerita.

Tante Dee bernama lengkap Lebrin Agustien Tamaela. Dialah adik kandung Dien. Dua bersaudara ini adalah putri dr Lodwijk Tamaela dan Mien Jacomina Pattiradjawane. Dee lebih beruntung ketimbang kakaknya Dien. Dien harus putus sekolah dan meninggal akibat TBC. Sedangkan Dee mendapat kesempatan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan lulus tahun 1956. Ia memilih menjadi dokter anak dan bekerja sampai pensiun. Sebagai dokter mengikuti jejak ayah, Dee pernah bertugas di RSU Kudamati Ambon tahun 1957-1960.

Di apartemen inilah, Dee yang kini berusia 83 tahun melewati hari-harinya dengan tenang. Seperti Dien, Dee juga hidup membujang sampai tua. Matanya masih terang, pendengarannya kuat dan kalau bicara lafalnya juga sangat jelas. Meskipun gurat-gurat ketuaan menguasai sekujur tubuh, ia masih terlihat cantik, rapih dan bersih.

Dee menceritakan beberapa momen penting dalam hidup Dien. Meskipun mengakui Dien berkawan dengan Chairil Anwar, namun Dee memastikan bahwa kedua sejoli itu tidak sampai menikah. Selain Dien tidak pernah mengutarakan niatnya menikah, Chairil juga tidak disukai keluarga Tamaela-Pattiradjawane.

“Chairil itu menakutkan,” kata Dee.
“Matanya merah, orangnya kurus, rambut gondrong tidak sisir, mirip penjahat,” tambahnya lagi.

Dee mengaku hanya sekali berjumpa dengan Chairil pada sebuah toko buku di Jakarta. Waktu itu, ketika berada di toko buku bersama kawannya, tiba-tiba Chairil muncul di hadapan mereka.

“Dee, ini Chairil yang menulis puisi untuk kakakmu,” kata sahabatnya.
Dee menyalami Chairil. Itulah pertemuan pertama dan terakhir dengan Chairil sebab penyair itu pun akhirnya mati muda.

Walau begitu, Dee sangat menghargai karya Chairil Anwar. Di apartemennya, ia masih menyimpan salinan puisi Cerita Buat Dien Tamaela. Ia mengoleksi puisi tersebut dalam beberapa bahasa. Misalnya, dalam Bahasa Belanda, Verhaal Voor Dien Tamaela diterjemahkan oleh Dolf Verspoor dan terbit di Den Haag tahun 1949. Dalam Bahasa Jerman menjadi Ich Bin Pattiradjawane diterjemahkan W.A. Braasem, terbit di Jerman tahun 1957.

Dolf Verspoor mempublikasikan Legende Pour Dien Tamaela. Meskipun dalam bahasa Prancis, namun dipublikasi di Mimbar Indonesia tahun 1949. Terjemahan lain oleh Mohammad Akbar Djuhana dalam Bahasa Prancis menjadi Histoire Pour Dien Tamaela, dipublikasi oleh Kedutaan Besar Prancis tahun 1950 dan 1958.

Ada beberapa terjemahan dalam Bahasa Inggris. Ahmed Ali dkk mempublikasikan Story For A Girl Dien Tamaela di Kaerachi tahun 1949. Judul yang sama dipublikasikan di London tahun 1959. Sedangkan A tale of Dien Tamaela diterjemahkan oleh Burton Raffel dan Nuurdin Salam, dipublikasi di Berkeley dan Los Angeles tahun 1964 oleh University of California Press. Di Manila, puisi ini dipublikasikan oleh Jurnal Universitas Manila tahun 1954, dengan judul Story For Dien Tamaela, terjemahan Justus van der Kroef.

Dalam Bahasa Spanyol, Ramadhan KH menulisnya menjadi Historia Para Una Muchacha Que Se Lama Tamaela, dipublikasikan di Madrid tahun 1962. Ada pula dalam bahasa lainnya namun sulit disalin karena tidak menggunakan huruf latin.

Saya senang sekali mendapat salinan dokumentasi ini. Dee juga memperlihatkan potret diri Dien, profil gadis Ambon hitam manis. Meutia pun beraksi dengan kamera digitalnya mengabadikan saya, Dino, Dien dan Dee. Kami merasa sudah bertemu Dien, sekalipun hanya dalam cerita, puisi dan foto.

Sebagai balasan dan rasa penghargaan, saya menyerahkan sebuah buku yang baru diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Yassin Jakarta, sehari sebelumnya. Buku berjudul Narasi Tanah Asal itu adalah Antologi Penyair Ternate. Saya dan Dino juga menyumbang puisi dalam antologi itu bersama sembilan penyair lain. Saya merasa buku ini pas untuk kenang-kenangan karena pada pengantarnya terdapat tulisan penyair Saut Situmorang. Saut menulis di bawah judul Cerita Buat Dien Tamaela.

TANAH KUSIR
Sayang sekali, hari itu juga Dino harus kembali ke Ternate. Sebab itu, sehari kemudian saya memutuskan pergi sendiri ke Pemakaman Tanah Kusir. Untung ada seorang adik, Petrus Lelyemin, juga pemuja Chairil Anwar. Ia lulusan Universitas Kristen Indonesia Maluku dan kini bekerja di Commission of Justice, Peace and Integrity of Creation - Missionarium Sacratissimi Cordis (MSC) Provinsi Indonesia.

Matahari panas, Jakarta bagai rumah kaca ketika saya dan Petrus tiba di Tempat Pemakaman Umum Tanah Kusir. Ribuan makam lama dan baru terbentang pada tiga bagian besar. Ada yang di sebelah utara, ada yang di sebelah selatan dan ada yang di seberang rel kereta api.

Saya memilih langsung mencari di pemakaman Kristen. Sedangkan Petrus menuju kantor pelayanan pemakaman. Petrus kembali dengan wajah kecewa. “Tidak ada nama Dien Tamaela. Mereka sudah cari di komputer, tapi tidak ada,” kata Petrus.

Saya terpaksa kembali ke kantor pemakaman. Sia-sia sebab pegawai-pegawai muda di sana kebingungan. Menurut mereka, sulit mencari seseorang yang meninggal tahun 1948 dan makamnya baru dipindahkan dari Petamburan ke Tanah Kusir tahun 1968. Apalagi baru dicari tahun 2009. Saya dan Petrus memutuskan mencari dengan cara mendatangi satu per satu kuburan.

Melalui Meutia, kami masih mengkonfirmasi posisi kuburan itu kepada tantenya di apartemen. “Tante Dee bilang, kuburan Dien berada di tepi jalan karena termasuk kuburan pertama di Tanah Kusir,” kata Meutia.

Setelah mencari pada hampir seribu kuburan tapi sia-sia, kami memutuskan pergi ke kuburan di seberang rel kereta api. Benar saja. Tidak lebih lima menit, sampai jua kami di tempat peristirahatan terakhir Dien Tamaela. Makamnya terletak di Pemakaman Unit Kristen Blok AA1 Blad 69-kiri seberang rel.

Pada satu makam yang terawat baik, terbaring Dien bersama ayah dr Tamaela dan ibu Mien Pattiradjawane. Di sisi kirinya, terdapat makam orang Ambon-Manado. Namanya Emanueliesje Frida Ester Sahertian-Karompis. Sisi kanan, terdapat makam Zhigniew Bleszynski, pria kelahiran Warsawa 1929 dan meninggal di Perth tahun 2001. Zhigniew Bleszynski adalah ayah kandung artis Tamara Bleszynski.

“Kalau ada yang mau cari kuburan Dien Tamaela, cari saja di dekat ayahnya Tamara,” kata petugas kebersihan di pemakaman.

Memang, ada kuburan Brury Pesolima dan Helmi Pesolima di dekat situ, tapi jaraknya sekitar 25 meter. Seperti kata petugas kubur, patokan ayah Tamara cukuplah membantu. Saya dan Peter saling berganti mengabadikan diri sendiri di atas makam.

Di atas makam itu juga kami berdiskusi tentang gadis bernama Dien Tamaela itu. Dia putri dokter terkenal namun bersahaja, tidak banyak bicara, pemain piano, sahabat Chairil, mati muda karena TBC. Dia tidak membuat maha karya seperti kebanyakan tokoh. Dia lahir di Palembang, mati di Jakarta dan tidak pernah menginjakkan kaki di Tanah Ambon. Tapi dialah sumber inspirasi lahirnya puisi karya penyair terkenal dan kontroversial Chairil Anwar. Sangat mungkin, Cerita Buat Dien Tamaela masih satu nafas dengan puisi Chairil lainnya, Senja di Pelabuhan Kecil dan Cintaku Jauh di Pulau.

Chairil mau hidup seribu tahun lagi. Begitulah cetusan hatinya dalam puisi Aku. Tapi dengan menggandeng Dien Tamaela dalam puisinya, Chairil maupun Dien bakalan hidup beribu-ribu tahun.
“ Beta ada di malam, ada di siang/irama ganggang dan api membakar pulau”. (rudi fofid)

Rabu, 11 November 2009

Curhat tugas !!

hari hari terakhir menuju Ujian Akhir Semester Jurusan DKV UK.PETRA, SURABAYA...
menjadi hal yg biasa melihat anak2 DKV UK PETRA mengerjakan seabrek tugas yang emang si keliatannya simple bagi melihat. tapi bagi kita mahasiswa yg mengikuti proses tugas ituu.. wedeeww sulitnya minta ampun..

pemikiran konsep, thumbnails, asistensi, tight tissue, asistensi lagi, hingga final merupakan rangkain proses yang harus kita lakuin setiap membuat 1 buah desain yang pada finalnya keliatannya simple aja.. huftsss...

setelah hampir 3 bulan menjalani proses itu akhirnya sampai pada tugas akhir..
membuat peta kawasan stasiun kereta api beserta ikon ikon tempat pada kawasan itu dilengkapai dengna ID kawasan.. membuat saya bener bener stress,,,

malas, capek, selalu menghantui untuk ga maju terus, namun demi menjadi seorg mahaaasiswa yang belajar... saya bener2 ingin menuntaskan itu semua..

hufztt.... ga jelas bgt ulisan kalii ini ahahah.